Cleoandme’s Blog











{Februari 4, 2009}   Keniscayaan; Partisipasi Perempuan dalam Ranah Politik

sukarno3sukarno1Yu Ijah : banyak sekali poster caleg yang ditempelin dijalan-jalan, saya jadi bingung nanti milih siapa? Ibu Atun pinter, saya sering lihat dia ngisi di acra pengajian, dia juga deket sama orang-orang didesa. Tapi Pak Mantri juga baik, gimana ya?

Pak Sobri : nggak usah bingung Yu, kalau mareka sama-sama pinter, pilih aja yang laki-laki, kalau milih perempuan, apa dia bisa jadi wakil rakyat yang baik? Dia kan harus ngurusin keluarga juga, apa bisa?

Yu Ijah : ???

Perbincangan tersebut seringkali kita dengar di warung-warung kopi, ditempat arisan, pengajian, kampus bahkan dikursi para pejabat, disekitar kita. Apalagi disela-sela masa kampanye pemilihan legislatif yang sudah mulai ramai sejak 2 bulan yang lalu.

Siapa bilang perempuan tidak bisa memimpin, dan siapa juga yang bisa menjamin kalau laki-laki lebih dapat dipercaya sebagai wakil rakyat daripada kaum hawa? Ada yang bisa membuktikan? Saya yakin tidak, karena kalaupun seseorang yang mampu atau tidak mampu memimpin itu hanya persoalan kemampuan dan manajemen, bukan soal apakah dia laki-laki atau perempuan.

Tentu kita sadar betul bahwa ada 2 jenis kelamin di muka bumi ini, yang pertama adalah jenis kelamin yang bersifat kodrati (given) yaitu pembedaan fisik antara laki-laki dan perempuan yang tidak dapat diubah maupun ditukar secara fungsinya, seperi sperma untuk laki-laki dan rahim untuk perempuan. Yang kedua, pembedaan antara keduanya yang disebabkan oleh tradisi, budaya manusia, inilah yang disebut dengan jenis kelamin sosial atau sering digunakan oleh para pegiat perempuan dengan istilah peran gender.

Saya hanya ingin menegaskan bahwa kegiatan politik-tepatnya disini adalah aktivitas yang berhubungan dengan dunia politik- adalah salah satu bentuk aktivitas publik yang bisa dilakukan siapapun, baik laki-laki maupun perempuan. Kalaupun selama ini yang berkecimpung didalamnya lebih banyak kaum adam, hal itu disebabkan karena budaya patriarchi, bukan sebuah kodrat. Karena kita sama-sama tahu bahwa sepanjang sejarah, perempuan lebih banyak dituntut mengurus hal ihwal dapur, sumur, kasur. Tak heran kalau perempuan tidak mempunyai kesempatan untuk berfikir lebih dari itu.

Ironis memang, perempuan sebagai pemilik angka tertinggi komunitas di Indonesia, hanya memiliki tak lebih dari 11% kursi untuk perempuan yaitu 62 dari 550, di lembaga -yang katanya- penampung aspirasi rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Apakah angka tersebut sudah cukup representatif bagi masyarakat dengan jumlah pemilih tetap (Pemilihan legislatif tahun 2004) 148,039 juta jiwa, yang 50% lebihnya adalah perempuan?

Kita luput bahwa, bahkan Nabi Muhammad mengizinkan Aisyah, istrinya, memegang kendali pada beberapa pertempuran, seperti perang jamal. Naila istri khalifah Utsman, dicatat dalam sejarah sering terlibat persoalan-persoalan politik. Begitu juga Asyifa, Samra Al-Asadiyah, Khaula binti Tsa’labah, Ummu Syarik, Asma binti Abu Bakkar adalah sederet sahabat perempuan Nabi saw yang berpartisipasi aktif dalam persoalan politik. Belakangan nama Zubaidah istri Harun Ar-Rasyid, Syajarat Al-Durr dikenal sebagai politisi yang handal dan berpengaruh. Tentu menggelitik untuk kita sadari betapa perempuan pun bisa mempunyai kemampuan yang sama dengan siapapun. Disini, perlu ada perhatian lebih dari negara maupun agama untuk menegakkan dada dalam menapaki ranah public.

Iklan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: